top of page

Cinematic Videography: Seni Visual Sinematik dalam Bercerita

  • Writer: Admin
    Admin
  • 9 hours ago
  • 5 min read

Cinematic videography adalah metode pengambilan video yang mengadopsi teknik, estetika, dan intentionality ala filmmaking. Fokusnya bukan sekadar merekam apa yang terjadi, tetapi menceritakan bagaimana rasanya.


Tidak semua video harus terasa seperti film. Namun, ketika tujuanmu adalah emotional pull, visual polish, dan immersive detail, pendekatan sinematik adalah pilihan yang tepat. Video sinematik tidak hanya ditonton tetapi dirasakan.


Apa Arti “Sinematik” Saat Ini?

Ketika kita berbicara tentang film—dan juga cinematic TV—kita sedang membahas media visual. Berbeda dengan teater atau novel, sinema mampu membawa penonton ke suatu tempat dan menunjukkan sesuatu secara langsung.


Sinema tidak harus bergantung pada dialog. Ia menggunakan shot, camera angle, aspect ratio, bahkan freeze frame untuk menyampaikan emosi dan plot. Semua ini dikenal sebagai cinematic language—bahasa visual yang membentuk cara kita memahami cerita.

Definisi “Cinematic”

Secara definisi, Merriam-Webster menyebut sinematik sebagai sesuatu yang “relating to, suggestive of, or suitable for motion pictures or the filming of motion pictures; cinematic principles and techniques; cinematic special effects.”


Untuk disebut sinematik, harus ada intentionality—tangan yang sengaja mengarahkan visual. Artinya, ada tingkat artistry yang direncanakan, disusun, dan sering kali scripted. Sinematik bukan kebetulan; ia adalah hasil pilihan sadar.


Cinematic dalam Film

Dalam praktiknya, kata cinematic sering merujuk pada rasa saat menonton: Does this feel like the movies?


Bahasa sinema begitu melekat dalam keseharian kita hingga membentuk cara berpikir—kita menilai momen hidup berdasarkan apa yang pernah kita lihat di layar. Namun, tidak semua film otomatis sinematik. Beberapa produksi televisi dibuat dengan coverage statis, terasa seperti panggung teater, dan kurang memiliki kompleksitas visual untuk layar lebar.


Sebaliknya, bukan hanya film yang bisa terasa sinematik. Konten lain—termasuk brand film, aftermovie, atau visual event—dapat meminjam bahasa sinema untuk menciptakan pengalaman yang kuat.

Contoh Film Sinematik (Cinematic Movies)

Film sinematik menonjol karena kualitas artistik, storytelling yang engaging, sinematografi yang kuat, dan dampak emosional yang mendalam lintas genre.


Classic Cinema

  • Citizen Kane (1941) – Orson WellesDianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa berkat struktur naratif inovatif dan sinematografi visioner.

  • Casablanca (1942)Drama romantis berlatar Perang Dunia II dengan karakter ikonik dan kisah cinta yang abadi.

  • Gone with the Wind (1939)Epik romantis berskala besar dengan narasi kuat dan visual yang menggambarkan Amerika Selatan secara vivid.


Modern Classics

  • The Godfather (1972) – Francis Ford CoppolaCrime drama dengan storytelling mendalam, karakter kompleks, dan dampak budaya besar.

  • 2001: A Space Odyssey (1968) – Stanley KubrickSci-fi visioner dengan visual inovatif, presisi ilmiah, dan dialog minimal.

  • Schindler’s List (1993) – Steven SpielbergDrama sejarah dengan kedalaman emosional dan sinematografi yang menghantui.



Contemporary Cinema

  • Inception (2010) – Christopher NolanPlot kompleks, visual effects mutakhir, dan eksplorasi alam bawah sadar.

  • Parasite (2019) – Bong Joon-hoKarya Korea Selatan dengan kritik sosial tajam dan paduan genre yang brilian.

  • La La Land (2016)Musical romantis dengan penghormatan pada Hollywood klasik dan resonansi emosional yang kuat.


Genre-Defining Cinema

  • Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977)Merevolusi visual effects dan storytelling sci-fi.

  • The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001)Standar baru untuk world-building, visual effects, dan ensemble casting.


Contoh Serial TV Sinematik (Cinematic TV Shows)

Dengan hadirnya platform streaming, cinematic television berkembang pesat—kualitas produksi dan skala ceritanya kerap menyamai film layar lebar.


Drama

  • Breaking Bad (2008–2013)Plot kompleks, karakter kuat, dan dilema moral yang intens.

  • Mad Men (2007–2015)Visual stylized era 1960-an dengan eksplorasi karakter yang mendalam.


Fantasy & Science Fiction

  • Game of Thrones (2011–2019)World-building luas, politik kompleks, dan produksi berskala epik.

  • Westworld (2016–present)Sci-fi filosofis dengan visual storytelling yang kuat.


Thriller & Mystery

  • True Detective (2014–present)Atmosfer gelap, karakter kompleks, dan penyutradaraan yang sinematik.

  • Stranger Things (2016–present)Perpaduan sci-fi, horror, dan nostalgia 1980-an.


Historical & Period Pieces

  • The Crown (2016–present)Detail sejarah, production value tinggi, dan performa akting solid.

  • Chernobyl (2019)Narasi penuh tensi dengan pendekatan realistis dan sinematik.


Comedy & Dramedy

  • Fleabag (2016–2019)Humor tajam, breaking the fourth wall, dan emosi yang jujur.

  • Atlanta (2016–present)Komedi surreal dengan komentar sosial yang kuat.


Serial-serial ini menunjukkan bahwa TV mampu menghadirkan pengalaman sinematik berkelanjutan, dengan eksplorasi tema yang lebih dalam dan karakter yang berkembang seiring waktu.



Cinematic Videography vs Standard Videography

Perbedaan utama terletak pada tujuan dan pendekatan.

Kategori

Cinematic

Standard

Purpose

Story-first

Moment-capture

Shot planning

Storyboard, moodboard

Minimal / reaktif

Lighting

Sculpted & intentional

Available / ambient

Post-production

Color grading, audio mix

Basic trimming

Camera movement

Deliberate & composed

Static / handheld

Cinematic videography memang membutuhkan waktu dan proses lebih panjang, tetapi hasilnya memberikan pengalaman visual yang jauh lebih kuat dan memorable.


Komponen Utama Tampilan Sinematik

1. Composition & Framing

Dalam video sinematik, setiap frame adalah bagian dari cerita. Teknik umum yang digunakan:

  • Rule of thirds

  • Foreground untuk menciptakan depth

  • Negative space untuk penekanan emosi

  • Subject separation dengan cahaya atau jarak


Namun lebih dari sekadar teknik, composition adalah tentang emotional rhythm. Penempatan subjek, keseimbangan visual, dan rasa ruang (wide vs tight) membentuk persepsi penonton terhadap cerita.


2. Lighting Design

Lighting menentukan tone dan mood. Dalam pendekatan sinematik, lighting digunakan secara sadar untuk membangun emosi:

  • Side lighting untuk kontras

  • Motivated lighting (meniru sumber cahaya alami)

  • Mix color temperature (warm & cool)


Lighting sinematik tidak harus mahal. Prinsipnya adalah berpikir seperti pelukis menggunakan cahaya sebagai tekstur, dan bayangan sebagai alat cerita.


3. Camera Movement

Dalam video sinematik, kamera tidak bergerak tanpa alasan. Setiap movement harus mendukung cerita:

  • Slow push-in untuk membangun tension

  • Tracking shot untuk mengikuti aksi

  • Handheld untuk intimacy atau chaos

  • Gimbal / slider untuk presisi


Movement yang tidak punya tujuan justru mengganggu. Movement yang intentional menciptakan immersion.


4. Depth of Field & Lenses

Shallow depth of field adalah alat, bukan aturan.

  • Aperture besar untuk background lembut

  • Focal length panjang untuk isolasi subjek

  • Wide lens untuk konteks ruang


Lensa membentuk persepsi ruang. 35mm terasa intimate dan natural, 85mm terasa personal dan fokus. Kombinasikan dengan controlled focus untuk menciptakan visual yang terasa deliberate.


5. Color & Aspect Ratio

Aspect ratio widescreen seperti 2.35:1 langsung memberi nuansa film. Namun yang paling menentukan adalah color.

  • Color grading dengan intent, bukan preset

  • Palet warna konsisten

  • Perhatikan skin tone & contrast


Color bersifat psikologis.Warm = intimacyCool = distanceDesaturated = realism atau loss

Grading bukan soal “lebih cantik”, tapi selaras dengan cerita.


Story Is the Foundation

Sinematik bukan berarti gelap atau moody. Sinematik berarti setiap keputusan visual punya alasan.


Pertanyaan yang perlu diajukan:

  • Apa yang harus dirasakan penonton di momen ini?

  • Ke mana mata penonton diarahkan?

  • Apa emotional beat dari shot ini?


Cinematic videography mendapatkan kedalaman bukan dari spectacle, tetapi dari konsistensi pilihan visual yang selaras dengan purpose.


Sound Design & Music

Visual menarik perhatian. Audio menjaga immersion.

  • Gunakan external microphone

  • Mix ambient sound dengan halus

  • Biarkan silence berbicara saat perlu

  • Musik harus mendukung, bukan mendominasi


Audio yang baik tidak mencolok ia terasa natural. Atmosphere, room tone, dan spatial sound membuat penonton merasa hadir di dalam cerita.

Cara Membuat Footage Terasa Lebih Sinematik

Fokus

Yang Bisa Dicoba

Framing

Tambahkan foreground & background

Lighting

Gunakan side / top light

Movement

Gerakkan kamera dengan tujuan

Audio

Bersih, natural, immersive

Color

Konsisten, tidak berlebihan

Ini bukan aturan kaku, melainkan mindset. Semakin sadar setiap keputusan visual, semakin footage-mu bergeser dari biasa menjadi sinematik.


Kapan Memilih Pendekatan Sinematik?

Gunakan cinematic videography ketika kamu ingin:

  • Menceritakan cerita dengan impact visual

  • Membangun emotional connection

  • Membuat konten dengan replay value tinggi


Hindari jika:

  • Sekadar dokumentasi event

  • Deadline sangat singkat

  • Ingin gaya raw atau casual


Sinematik bukan tentang meniru film. Ia tentang clarity, confidence, dan control dalam bercerita. Ketika setiap frame punya tujuan, setiap cahaya punya makna, dan setiap suara terasa hadir video tidak lagi hanya ditonton, tapi dirasakan.


Kembangkan Sinematik dengan Event Organizer Jakarta

Ingin menghadirkan video event, brand, atau corporate content dengan sentuhan sinematik yang kuat? XOEO Indonesia siap membantu konsep, produksi, hingga eksekusi cinematic videography yang selaras dengan cerita brand Anda sebagai Event Organizer Jakarta.

Comments


Group 12.png
XOEO Logo
  • TikTok XOEO
  • Instagram XOEO
  • LinkedIn XOEO
XOEO Indonesia
halo@xoeoindonesia.com
+62 811 8201 586


Jl.Ceger Raya No. 10B Tangerang Selatan, Indonesia
bottom of page